Tari, Lagu, dan Tradisi Panen: Merawat Adat Bugis-Makassar di Lalabata
Tari, lagu, dan tradisi panen di Lalabata, Soppeng, merawat adat Bugis-Makassar di Kota Watansoppeng lewat lima kelurahan dan generasi mudanya.
Poin Penting
- Lalabata adalah kecamatan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, sekaligus ibu kota dengan nama Kota Watansoppeng.
- Kecamatan Lalabata terdiri dari lima kelurahan: Bila, Labata Rilau, Botto, Lapajung, dan Lemba.
- Tari Paduppa dan tari Pakarena adalah bagian dari seni pertunjukan Bugis-Makassar yang hidup di pesta adat dan penyambutan tamu.
- Lagu Bugis berbahasa Ugi tumbuh lewat tradisi lisan, sering dinyanyikan saat acara keluarga dan panen.
- Mappadendang adalah tradisi syukuran panen Bugis yang menabuh lesung sebagai ungkapan syukur.
- Sektor pertanian, terutama padi dan palawija, tetap menjadi penopang hidup warga di sekitar Lalabata.
Malam di Watansoppeng, Suara Lesung yang Tak Hilang
Pukul sembilan malam di Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata, bunyi lesung bersahutan dari balai pertemuan warga. Beberapa perempuan muda memegang alu, menabuh berirama, sementara tetua duduk di sisi kanan menyimak. Itulah mappadendang, syukuran panen khas Bugis yang masih dirawat di Kota Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng.
Lalabata bukan nama asing bagi orang Soppeng. Kecamatan ini menaungi lima kelurahan: Bila, Labata Rilau, Botto, Lapajung, dan Lemba. Sebagai pusat pemerintahan kabupaten, denyut hidupnya bercampur antara urusan kantor dan ritme kampung yang masih lekat dengan sawah, kebun, dan panggung adat.
Di kota kecil seperti ini, adat tidak disimpan di lemari. Ia dibawa ke halaman, ke pesta, ke acara syukuran. Setiap kali panen tiba atau hajatan keluarga digelar, tari, lagu, dan doa kembali dirapal bersama.
Tari Paduppa dan Lagu Ugi di Ruang Keluarga
Tari Paduppa, tari penyambutan tamu dalam tradisi Bugis, sering dibawakan di Lalabata saat ada pejabat berkunjung, pernikahan, atau acara adat. Penarinya memakai baju bodo, kain sutra berwarna cerah, dan aksesori emas. Gerak tangannya lembut, mengikuti irama gendang dan kecapi.
Di sisi lain, lagu berbahasa Ugi tetap hidup lewat suara ibu-ibu di dapur dan bapak-bapak yang memetik kecapi usai pulang dari sawah. Tidak selalu ada panggung. Kadang hanya di beranda, ditemani kopi robusta lokal dan pisang goreng. Lagu-lagu itu mengisahkan nasihat, rindu, dan syukur atas hasil bumi.
Anak-anak di Kelurahan Bila dan Botto mulai jarang mendengar langsung. Sekolah dan sanggar menjadi jembatan. Beberapa guru seni di Lalabata mengajarkan tari dan lagu Bugis sebagai kegiatan ekstrakurikuler, meski terbatas alat dan ruang latihan.
Panen, Syukur, dan Masa Depan Adat
Tradisi panen di Lalabata tidak lepas dari siklus padi. Sebelum menanam, sebagian petani masih menjalankan ritual kecil di pematang, meminta keselamatan dan hasil yang cukup. Setelah panen, warga berkumpul, makan bersama, dan menabuh lesung dalam mappadendang.
Sektor pertanian, terutama padi dan palawija, masih menopang banyak keluarga di sekitar Lalabata. Lahan sawah menyusut karena pembangunan rumah dan pertokoan di pusat kota, tetapi warga yang bertahan menjaga kebiasaan lama: gotong royong, berbagi hasil, dan mengundang tetangga saat syukuran.
Tantangan terbesar bukan hilangnya adat, melainkan waktu. Generasi muda sibuk sekolah dan bekerja. Orang tua menua. Perlu ruang agar tari, lagu, dan tradisi panen tidak berhenti di satu generasi.
Di Watansoppeng, adat Bugis-Makassar dirawat pelan-pelan. Lewat lesung yang ditabuh malam hari, lewat baju bodo yang dipakai di pesta, dan lewat lagu Ugi yang dinyanyikan tanpa mikrofon. Selama warga Lalabata masih berkumpul, tradisi itu punya tempat pulang.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Di mana Kecamatan Lalabata berada?
Lalabata adalah kecamatan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan ini menjadi ibu kota kabupaten dengan nama Kota Watansoppeng.
Apa saja kelurahan di Kecamatan Lalabata?
Lima kelurahan: Bila, Labata Rilau, Botto, Lapajung, dan Lemba.
Tradisi apa yang masih dirawat di Lalabata?
Tari Paduppa, lagu berbahasa Ugi, dan mappadendang, tradisi syukuran panen dengan menabuh lesung.
Mengapa tradisi panen penting bagi warga Lalabata?
Karena pertanian, terutama padi dan palawija, masih menopang hidup banyak keluarga di sekitar Lalabata. Syukuran panen menjadi cara warga bersyukur dan memperkuat kebersamaan.